17 Juli 2020
Metode Harga Pokok Persediaan Barang (FIFO, LIFO, dan Average)

Metode harga pokok persediaan barang (FIFO, LIFO, dan Average) adalah metode yang sering digunakan dalam akuntansi. Ketahui info selengkapnya tentang teori ini.

Kita mengenal persediaan barang sebagai stok idle (menganggur) dari jumlah produk yang dimiliki perusahaan. Dalam hal ini dilakukan pencatatan persediaan sangat penting karena untuk memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut.

Dalam dunia akuntansi, dikenal Metode harga pokok persediaan barang (FIFO, LIFO, dan Average sebagai metode penghitungan persediaan yang tersisa di dalam gudang.

Metode harga pokok persediaan barang ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Maka dari itu, penggunaan metode ini hendaknya disesuaikan dengan sistem perusahaan yang dijalankan agar perolehan laba atau keuntungan yang didapat lebih maksimal. Untuk mengetahui tentang metode FIFO, LIFO, dan Average, yuk simak ulasan berikut ini!

Mengenal Metode FIFO

Metode FIFO merupakan singkatan dari “First In First Out”, sebuah sistem barang, yang pertama masuk ke gudang maka akan pertama keluar. Maksudnya adalah persediaan yang pertama dijual adalah persediaan yang pertama masuk.

Metode ini mampu meminimalisir barang rusak akibat penyimpanan di gudang terlalu lama, serta digunakan pada produk yang mudah kadaluarsa seperti makanan.

Dasar penggunaan metode FIFO adalah biaya pembelian suatu produk harus disesuaikan dengan hasil penjualannya. Nantinya jumlah penjualan terakhir akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan biaya barang yang masih tersisa pada penjualan akhir.

Metode FIFO memiliki dampak yang tinggi terhadap aktiva karena menghasilkan persediaan yang tinggi.

Metode ini juga tidak terlihat secara fisik karena pengambilan barang dari gudang berdasarkan sistemnya. Namun, metode ini lebih terlihat pada harga pokok barangnya. Perhitungan harga yang digunakan sesuai dengan stok harga terdahulu.

Metode FIFO merupakan metode yang logis bagi suatu perusahaan. Metode ini meminimalisir penurunan penjualan akibat penyimpanan yang terlalu lama di gudang.

Ada cukup banyak keuntungan metode FIFO bagi perusahaan, diantaranya adalah :

  1. Mudah dipahami dan diterima secara universal

Pada metode FIFO persediaan barang yang dijual adalah persediaan barang awal dengan perhitungannya mengikuti biaya pada setiap gelombang    produksi. Hal tersebut membuat pembukuan lebih mudah dan memperkecil kemungkinan terjadi kesalahan.

  1. Meminimalisir pemborosan

Dalam metode FIFO produk yang pertama dijual terlebih dahulu. Maka dari itu biaya penurunan produk bisa dihindari. Begitu pula barang yang tersisa memiliki kualitas produk yang baik dan bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Karena memang produk tersebut merupakan produksi baru.

  1. Laporan keuangan menjadi minim manipulasi

Penghitungan biaya pada FIFO cenderung lebih akurat. Proses pencatatan transaksi yang urut sejak pertama menyebabkan garis pengeluaran dapat lebih dipantau. Apabila ada kesalahan pada penghitungan laba maka dapat dengan mudah melacaknya, sehingga sulit dimanipulasi.

Metode FIFO memang memudahkan perusahaan dalam melakukan rekap data karena metode yang cukup mudah. Namun begitu,  metode FIFO juga memiliki kekurangan yang menyebabkan perusahaan yang menggunakannya cukup kewalahan. 

Ini dikarenakan nominal pajak yang dihasilkan lebih besar pada laporan. Hal ini dikarenakan jumlah kerusakan barang yang bisa lebih diminimalisir. Karena keuntungan yang dihasilkan lebih banyak maka jumlah pembayaran pajak juga lebih meningkat.

Mengenal Metode LIFO

Metode LIFO merupakan singkatan dari “Last In First Out”, dan merupakan sistem barang yang terakhir masuk ke gudang maka akan pertama keluar. Maksudnya adalah persediaan yang pertama dikeluarkan dari gudang adalah persediaan yang terakhir masuk.

Pada metode ini, barang yang pertama kali masuk tidak dijual terlebih dahulu tetapi disimpan di gudang persediaan.

Inilah mengapa harga barang persediaan terakhir akan dinilai sama dengan harga persediaan barang pertama masuk. Berbeda dengan FIFO yang digunakan untuk produk yang mudah kadaluarsa, LIFO digunakan untuk produk yang lebih tahan lama seperti pakaian, sepatu, maupun peralatan rumah tangga.

Metode LIFO ini didasari bahwa harga barang akan semakin naik seiring berkembangnya waktu.

Persediaan barang awal yang dibeli dengan harga murah akan disimpan di gudang sampai harga jual barang stabil. Setelah itu, pemilik bisa menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi, dengan berbagai keuntungan sebagai berikut :

  1. Pembayaran pajak lebih hemat

Penggunaan metode LIFO dapat menangguhkan pajak selama tingkat harga terus naik dan jumlah barang tidak turun. Hal ini dikarenakan penjualan terakhir memiliki tingkat laba yang lebih tinggi dibanding pendapatannya.

  1. Lebih mudah membandingkan biaya dengan pendapatan

Penjualan barang terakhir memiliki tingkat laba yang tinggi dibandingkan dengan pendapatan selama harga terus naik dan penjualan tidak turun. Inilah yang menyebabkan penggunaan metode LIFO lebih mudah digunakan untuk membandingkan biaya dengan pendapatan.

  1. Apabila harga naik maka harga barang lebih konservatif

Apabila harga naik maka harga barang akan lebih konservatif. Artinya harga barang yang dijual lebih tinggi sehingga laba yang diperoleh juga semakin tinggi.

  1. Laba operasi perusahaan tidak bergantung pada fluktuasi harga

Karena pada metode LIFO persediaan barang yang dijual adalan persediaan barang akhir maka perolehan laba tidak bergantung pada fluktuasi harga. Hal itu bisa terjadi karena persediaan barang yang dijual adalah persediaan akhir.

Dari berbagai kelebihan metode LIFO, pasti ada berbagai kekurangan yang menyebabkan beberapa perusahaan menghindari penggunaan metode ini.

Berikut ini berbagai kekurangan metode LIFO untuk perusahaan :

  1. Laba rugi lebih rendah

Perhitungan laba atau keuntungan pada metode LIFO lebih rendah jika dibanding dengan 2 metode yang lain yaitu metode FIFO dan Average. Maka hal ini menyebabkan adanya kecenderungan untuk memanipulasi laba perusahaan.

  1. Biaya pembukuan yang tinggi karena metode yang rumit

Dibandingkan dengan metode FIFO dan Average, penghitungan pada metode LIFO lebih rumit karena persediaan barang yang dijual adalah persediaan barang akhir. Maka dari itu proses pembukuannya lebih panjang dan membutuhkan biaya yang tinggi.

  1. Pengukuran biaya kurang tepat

Pada metode LIFO persediaan barang akhir itulah yang dijual terlebih dahulu. Barang persediaan awal pun akan terlebih dahulu menjadi penghuni gudang. Dengan begitu, bisa terjadi saat persediaan barang awal dijual dengan harga yang lebih rendah karena perubahan tren yang berbeda.

Mengenal Metode Average

Metode average sering juga disebut dengan istilah metode rata-rata tertimbang. Metode yang satu ini sering digunakan untuk menghitung per unit jumlah persediaan berdasarkan rata-rata tertimbang dalam jangka periode tertentu.

Cara menghitung menggunakan metode average yaitu dengan membagi jumlah biaya barang persediaan dengan jumlah barang. Metode average merupakan perpaduan antara metode FIFO dan LIFO. Kebanyakan perusahaan menyukai metode ini karena kemudahan proses kalkulasinya.

Itulah beberapa informasi mengenai metode FIFO, LIFO, dan Average yang perlu Anda ketahui. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi pemilihan metode yang tepat akan memberikan perolehan laba atau keuntungan bagi perusahaan lebih banyak.

Bagi Anda yang tidak ingin repot melakukan penghitungan metode harga pokok persediaan barang (FIFO, LIFO, dan Average), bisa menggunakan software akuntansi.

Kami SISCOM sebagai penyedia aplikasi akuntansi yang berkualitas premium siap membantu Anda. Dengan bekerja sama melalui aplikasi milik SISCOM, perusahaan akan bisa mewujudkan proses pencatatan stok barang dengan lebih akurat.