Artikel

Material Waste: Penyebab Pemborosan Material yang Membuat Biaya Proyek Konstruksi Membengkak

2 jam yang lalu
Material Waste: Penyebab Pemborosan Material yang Membuat Biaya Proyek Konstruksi Membengkak

Pemborosan material konstruksi dapat membuat biaya proyek membengkak. Kenali penyebab material waste, cara menghitungnya, dan strategi pengendalian dengan ERP!

Dalam proyek konstruksi, material adalah salah satu komponen biaya yang harus dikendalikan dengan cermat. Mulai dari semen, pasir, besi beton, keramik, hingga kebutuhan finishing, semuanya harus tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat.

Namun, pernahkah perusahaan menghitung berapa banyak material waste yang terjadi selama proyek berlangsung?

Misalnya, kontraktor membeli 500 dus keramik untuk membangun sebuah gedung. Setelah pekerjaan selesai, ternyata ada keramik yang pecah, potongan yang tidak bisa dipakai lagi, hingga material tersisa akibat kesalahan perencanaan.

Sekilas, jumlahnya tampak kecil. Namun jika terjadi pada banyak jenis material selama berbulan-bulan, dampaknya dapat meningkatkan biaya proyek secara signifikan.

Material waste adalah pemborosan atau kehilangan material yang terjadi selama perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, hingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Artikel ini membahas penyebabnya, cara menghitungnya, dan bagaimana kontraktor dapat mengendalikannya dengan SISCOM ERP Contractor.

Ringkasan singkat

  • Material waste mencakup material yang rusak, hilang, salah pakai, berlebih, atau tersisa karena perencanaan kurang tepat.
  • Enam jenis umum: overordering, kerusakan fisik, sisa potongan, penyimpanan keliru, pencurian, dan pekerjaan ulang.
  • Rumus sederhana: Material Waste (%) = (Material Berlebih / Kebutuhan Rencana) × 100%.
  • Pengendalian harus dimulai sejak perencanaan anggaran, bukan hanya saat material dipakai.
  • ERP membantu menghubungkan anggaran, pengadaan, penerimaan, penggunaan, dan realisasi biaya.

Daftar isi

  1. Apa itu material waste dalam proyek konstruksi?
  2. Jenis-jenis material waste
  3. Mengapa material waste sering terjadi?
  4. Bagaimana material waste memengaruhi biaya proyek?
  5. Ilustrasi dan rumus menghitung material waste
  6. Strategi mengurangi material waste
  7. Peran SISCOM ERP Contractor
  8. Pertanyaan yang sering diajukan
  9. Kesimpulan

Apa Itu Material Waste dalam Proyek Konstruksi?

Material waste adalah kondisi ketika material yang digunakan atau disediakan untuk proyek tidak seluruhnya menghasilkan pekerjaan sesuai kebutuhan. Bentuknya bisa berupa material yang rusak, hilang, salah pakai, berlebihan, atau tersisa karena perencanaan yang kurang tepat.

Material waste tidak selalu berarti semua material harus dibuang. Sebagian masih dapat dipakai kembali, sebagian lainnya benar-benar tidak bisa dimanfaatkan.

Sejumlah penelitian telah menguji hubungan antara pemborosan material dan pembengkakan biaya (cost overrun). Saidu dan Shakantu (2016) mengukur volume limbah material langsung di lokasi pada 31 proyek bangunan di Abuja, Nigeria. Hasilnya menunjukkan hubungan positif yang signifikan secara statistik: semakin besar volume limbah material, semakin besar pembengkakan biaya. Kontribusi limbah material terhadap pembengkakan biaya berkisar antara 1,96% dan 8,01%, dengan rata-rata 4,0%.

Penelitian lanjutan Saidu dan rekan (2017) membandingkan penyebab pemborosan material dengan penyebab pembengkakan biaya. Mereka menyimpulkan bahwa semua penyebab pemborosan material juga menyebabkan pembengkakan biaya, baik pada tahap pra-kontrak maupun pasca-kontrak, dan merekomendasikan agar pemborosan dikendalikan dari sumber dan penyebabnya di setiap tahap proyek.

Kedua penelitian dilakukan di Nigeria, sehingga angkanya tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk proyek di Indonesia. Namun pesannya relevan: pengendalian material perlu dimulai sejak perencanaan, bukan hanya saat pekerjaan berlangsung.

Sumber:

  • Saidu, I. dan Shakantu, W. (2016). The contributions of construction material waste to project cost overruns in Abuja, Nigeria. Acta Structilia, 23(1), 99-113. doi:10.18820/24150487/as23i1.4
  • Saidu, I., dkk. (2017). A bespoke approach for relating material waste to cost overrun in the construction industry. Journal of Construction Business and Management, 1(1), 39-52. doi:10.15641/jcbm.1.1.63

Jenis-Jenis Material Waste

Jenis Pemborosan Contoh dalam Proyek Konstruksi
Overordering Pembelian material melebihi kebutuhan proyek
Physical Damage Keramik pecah, semen rusak, atau besi mengalami kerusakan
Cutting Waste Sisa potongan besi, kayu, atau keramik yang tidak dapat dimanfaatkan
Improper Storage Material rusak akibat penyimpanan yang tidak sesuai
Material Theft Kehilangan material akibat pengawasan yang kurang
Rework Waste Material terbuang karena pekerjaan harus dibongkar dan diperbaiki

Mengapa Material Waste Sering Terjadi?

Material waste dapat muncul dari berbagai aktivitas proyek. Berikut penyebab yang sering perlu diperhatikan kontraktor.

1. Kesalahan Perhitungan Kebutuhan Material

Perhitungan yang tidak akurat bisa membuat perusahaan membeli terlalu banyak atau justru kekurangan material. Contoh: kebutuhan keramik suatu area diperkirakan 500 dus, tetapi karena perhitungan luas dan kebutuhan potongan kurang tepat, perusahaan membeli 550 dus. Jika sisanya tidak bisa dipakai untuk pekerjaan lain, kelebihan pembelian itu berpotensi menjadi pemborosan.

2. Penyimpanan Material yang Tidak Tepat

Setiap material punya karakteristik penyimpanan berbeda. Semen perlu disimpan di tempat kering agar tidak menggumpal karena kelembapan, sedangkan keramik perlu ditata baik untuk mengurangi risiko pecah. Penyimpanan yang tidak sesuai dapat merusak material sebelum dipakai.

3. Kesalahan dalam Proses Pengerjaan

Kesalahan pengukuran, pemotongan, pemasangan, atau penggunaan material dapat membuat pekerjaan harus diperbaiki. Akibatnya perusahaan mengeluarkan material tambahan untuk pekerjaan yang seharusnya benar sejak awal.

4. Pengadaan Material Tidak Sesuai Kebutuhan

Membeli material tanpa mempertimbangkan kebutuhan aktual dan ketersediaan stok dapat menyebabkan penumpukan. Sebaliknya, keterlambatan pengadaan bisa mengganggu jadwal pekerjaan. Karena itu, pengadaan perlu disesuaikan dengan rencana pekerjaan dan kebutuhan di lapangan.

5. Kurangnya Pengawasan Penggunaan Material

Tanpa pencatatan yang tertib, perusahaan sulit mengetahui berapa material yang sudah diterima, digunakan, dan masih tersedia. Selisih antara rencana dan penggunaan aktual pun tidak terdeteksi sejak awal.

Bagaimana Material Waste Memengaruhi Biaya Proyek?

Pemborosan material bukan hanya membuat perusahaan kehilangan barang. Dampaknya dapat merambat ke berbagai komponen biaya proyek.

Permasalahan Dampak terhadap Proyek
Material rusak Membutuhkan pembelian pengganti
Pembelian berlebihan Meningkatkan biaya pengadaan dan penyimpanan
Material hilang Menimbulkan biaya penggantian
Kesalahan pengerjaan Membutuhkan material dan tenaga kerja tambahan
Keterlambatan material Berpotensi menghambat pekerjaan
Perencanaan tidak akurat Menyulitkan pengendalian anggaran

Ilustrasi: Bagaimana Pemborosan Kecil Menjadi Biaya Tambahan?

Bayangkan sebuah proyek membutuhkan 500 dus keramik dengan harga Rp120.000 per dus. Dalam pelaksanaannya, material yang terpakai mencapai 540 dus karena ada sisa potongan dan kerusakan yang tidak bisa dimanfaatkan kembali. Contoh ini fiktif, hanya untuk ilustrasi.

Keterangan Jumlah
Kebutuhan material berdasarkan perencanaan 500 dus
Penggunaan aktual 540 dus
Material berlebih 40 dus
Harga per dus Rp120.000
Total biaya material berlebih Rp4.800.000

Rumus menghitung material waste

Material Waste (%) = (Material Berlebih / Kebutuhan Rencana) × 100%

Berdasarkan ilustrasi: (40 / 500) × 100% = 8%. Artinya, penggunaan material melebihi kebutuhan rencana sebesar 8%. Jika dihitung dengan harga pembelian, biaya tambahannya Rp4.800.000.

Rp4,8 juta mungkin tampak kecil untuk satu jenis material. Namun jika pola 8% ini terjadi pada banyak material yang nilainya jauh lebih besar, selisihnya bisa menjadi puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam satu proyek.

Catatan: simulasi ini mengasumsikan spesifikasi dan volume pekerjaan tidak berubah serta seluruh selisih adalah material yang tidak dapat dimanfaatkan. Dalam praktiknya, selisih penggunaan belum tentu seluruhnya waste karena dapat dipengaruhi perubahan desain, tambahan volume, atau kebutuhan potongan yang memang direncanakan.

Strategi Mengurangi Material Waste pada Proyek Konstruksi

Mengurangi pemborosan material membutuhkan pengendalian yang konsisten. Berikut langkah yang dapat diterapkan.

1. Hitung Kebutuhan Material Secara Akurat

Sebelum pengadaan, pastikan kebutuhan material dihitung berdasarkan gambar kerja, spesifikasi, volume pekerjaan, dan metode pelaksanaan. Perhitungan yang tepat mengurangi risiko kelebihan maupun kekurangan material.

2. Buat Standar Penyimpanan Material

Simpan material sesuai karakteristiknya. Terapkan pengelompokan, pemberian label, dan pemeriksaan kondisi barang secara berkala untuk mengurangi risiko kerusakan dan kehilangan.

3. Catat Setiap Material yang Masuk dan Digunakan

Catat setiap penerimaan dan penggunaan material agar jumlah yang tersedia jelas. Pencatatan ini juga membantu membandingkan kebutuhan menurut anggaran dengan penggunaan aktual di lapangan.

4. Evaluasi Penggunaan Material

Evaluasi selisih antara kebutuhan rencana dan penggunaan aktual. Jika pemborosan berulang, telusuri penyebabnya: perhitungan, penyimpanan, pengadaan, atau proses pengerjaan.

5. Integrasikan Pengadaan dengan Anggaran Proyek

Pengadaan material sebaiknya tidak berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan anggaran. Dengan menghubungkan kebutuhan pembelian dan RAP, perusahaan dapat meningkatkan pengawasan pengeluaran dan mengurangi pembelian yang tidak sesuai rencana.

Peran SISCOM ERP Contractor dalam Mengendalikan Material Waste

Pengendalian material waste tidak hanya dilakukan saat material digunakan, tetapi perlu dimulai sejak perencanaan anggaran hingga pencatatan realisasi di lapangan. SISCOM ERP Contractor menyediakan beberapa fitur yang mendukung proses tersebut.

Fitur SISCOM yang mendukung pengendalian material

Modul / Fitur Fungsi dalam Pengendalian Material
Budget Management: RAB dan RAP Menyusun anggaran dan rencana biaya pelaksanaan proyek sebagai acuan penggunaan material.
Budget Realization and Monitoring Memantau perbandingan antara anggaran dan realisasi biaya proyek.
Procurement: Purchase Requisition Mencatat kebutuhan pengadaan material berdasarkan kebutuhan proyek.
Vendor Comparison Membantu membandingkan penawaran dari beberapa vendor.
Goods Receipt Note (GRN) Mencatat penerimaan material yang datang ke proyek.
Material Usage Mendukung pencatatan penggunaan material dalam kegiatan proyek.

Alur pengendalian material menggunakan SISCOM

  1. RAB dan RAP: menentukan kebutuhan serta anggaran material sebagai dasar pengendalian biaya.
  2. Purchase Requisition: mencatat permintaan pengadaan material sesuai kebutuhan proyek.
  3. Vendor Comparison: membandingkan penawaran vendor sebelum menentukan pilihan pengadaan.
  4. Goods Receipt Note (GRN): mencatat material yang diterima agar jumlah penerimaan dapat dipantau.
  5. Material Usage: mencatat material yang digunakan selama pelaksanaan proyek.
  6. Budget Realization and Monitoring: memantau realisasi biaya dan membandingkannya dengan anggaran yang direncanakan.

Contoh penerapan

Misalnya proyek membutuhkan 1.000 sak semen berdasarkan RAP. Melalui pencatatan pengadaan dan penerimaan, perusahaan dapat memantau jumlah semen yang dipesan dan diterima. Penggunaan material kemudian dicatat untuk membantu mengevaluasi kesesuaiannya dengan rencana.

Jika realisasi penggunaan atau biaya mulai melebihi perencanaan, perusahaan dapat mengevaluasi lebih awal untuk mengurangi risiko pemborosan.

Dengan SISCOM ERP Contractor, pengendalian material dapat dilakukan lebih terstruktur melalui keterhubungan perencanaan anggaran, pengadaan, penerimaan, penggunaan, dan pemantauan realisasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu material waste dalam konstruksi?

Material waste adalah pemborosan atau kehilangan material selama proses perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, hingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi, sehingga material tidak seluruhnya menjadi hasil pekerjaan.

Apa saja penyebab utama material waste?

Penyebab umum adalah kesalahan perhitungan kebutuhan, penyimpanan yang tidak tepat, kesalahan pengerjaan, pengadaan yang tidak sesuai kebutuhan, dan kurangnya pengawasan penggunaan material.

Bagaimana cara menghitung material waste?

Gunakan rumus (Material Berlebih / Kebutuhan Rencana) × 100%. Pastikan dulu bahwa selisih tersebut benar-benar material yang tidak terpakai, bukan karena perubahan desain atau tambahan volume pekerjaan.

Apakah selisih penggunaan material selalu berarti waste?

Tidak. Selisih bisa muncul dari perubahan desain, tambahan volume, atau kebutuhan potongan yang memang direncanakan. Karena itu selisih perlu ditelusuri sebelum disimpulkan sebagai waste.

Berapa persen material waste yang wajar?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua. Batas wajar bergantung pada jenis material, metode kerja, dan standar perusahaan atau kontrak. Cara paling praktis adalah menetapkan target internal per jenis material, lalu memantau tren dari proyek ke proyek.

Bagaimana ERP membantu mengurangi material waste?

ERP menghubungkan anggaran (RAB dan RAP), permintaan pembelian, penerimaan barang, penggunaan material, dan realisasi biaya. Dengan data terhubung, selisih antara rencana dan realisasi lebih cepat terlihat.

Kesimpulan: Pengendalian Material Dimulai dari Perencanaan yang Tepat

Material waste adalah permasalahan yang dapat memengaruhi efisiensi dan profitabilitas proyek konstruksi. Pemborosan tidak hanya berasal dari kesalahan pengerjaan, tetapi juga dari perencanaan yang kurang akurat, penyimpanan yang tidak tepat, pengadaan berlebihan, dan lemahnya pengawasan penggunaan material.

Karena itu, kontraktor perlu menerapkan pengendalian material sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan proyek. Melalui SISCOM ERP Contractor, perusahaan dapat mendukung pengelolaan anggaran, pengadaan, penerimaan, dan penggunaan material dengan informasi yang lebih terstruktur.

Ingat, mengurangi pemborosan material bukan sekadar menghemat pembelian, tetapi juga menjaga efisiensi biaya dan keuntungan proyek.

Ingin tahu bagaimana SISCOM ERP Contractor membantu mengelola anggaran dan penggunaan material proyek?
Jadwalkan demo gratis SISCOM dan temukan solusi pengelolaan proyek konstruksi yang lebih terintegrasi.

Content Writer di SISCOM · Lihat semua artikelnya →

Berbagi panduan praktis seputar akuntansi, inventory, produksi, dan HR dari pengalaman mendampingi bisnis yang sedang tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.

Tulis komentar

Komentar akan ditinjau admin sebelum ditampilkan.

Konsultasi Gratis

Rapikan stok dan keuangan bisnis Anda bersama Siscom

Ceritakan kebutuhan bisnis Anda. Tim kami siap menunjukkan cara kerja Siscom ERP dengan alur bisnis Anda.

  • Tanpa biaya konsultasi
  • Balasan di hari kerja yang sama
  • Demo dengan alur bisnis Anda